loading...
Loading...

Business Disruption

Disruption pada industri media telah banyak menyebabkan kebangkrutan media cetak yang dulunya unggul dan menguasai pasar. Bahkan untuk media dengan genre life style sekalipun yang paling laku (menguasai pasar) tidak dapat bertahan dengan adanya serbuan dan gangguan (disruption) media digital, yang didukung dengan sosial media yang fenomenal menjadi point of interaction (seperti Facebook, Instagram, Youtube, Whatsapp) yang digunakan oleh hampir semua orang saat ini.
Business Disruption oleh : Gagan Gandara.
Business Disruption oleh : Gagan Gandara.
Adanya perkembangan informasi teknologi digital, telah menyebabkan Femina group yang pada dekade 90-an merupakan pemimpin pasar pada group media cetak, dengan genre majalah lifestyle harus mengalami kemunduran dan kalah bersaing dengan munculnya media-media digital baru yang saat ini menguasai pasar Indonesia.

Pelajaran yang dapat diambil dari kasus Femina Group, seperti yang disampaikan oleh Hannie Kusuma mantan pemimpin redaksi Femina Group yang berkarir awalnya sebagai jurnalis, setidaknya menurut pandangan penulis adalah sebagai berikut:

Keterlambatan beradaptasi
Keterlambatan beradapatasi sejatinya terjadi karena perusahaan gagal dalam menyusun strategi bisnis khususnya dalam hal melakukan “scanning environment”. Meskipun faktor-faktor eksternal sangat sulit untuk dikendalikan, tetapi kemampuan perusahaan mengantisipasi dan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan pasar menjadi sangat penting pada masa saat ini. Karena perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat secara eksponensial diperlukan terobosan dan inovasi baru dalam memproduksi konten, inovasi dalam membuat media platform itu sendiri, content distribution serta pola komunikasi dan pola hubungan dengan para pembaca. Perusahaan harus mampu mengantisipasi persaingan yang sangat ketat dari pendatang baru dan perubahan masyarakat dalam mengakses informasi yang semakin mudah melalui jejaring teknologi internet dengan kenyamanan dan kecepatan yang semakin tinggi. Femina group terlambat meresponse perubahan ini, sehingga dalam waktu singkat ditinggalkan para pembacanya.

Business Model
Pentingnya mempunyai produk sendiri, sehingga bisnis tidak sangat bergantung kepada pihak lain yang memiliki produk (principal). Pada kasus Femina Group, cukup banyak brand-brand majalah internasional yang dibeli lisensinya untuk diproduksi secara lokal di Indonesia, dengan membayar principal fee yang cukup tinggi. Pembayaran principal fee biasanya dilakukan per tahun dan dibayar dimuka, sehingga dalam kondisi bisnis media cetak dalam disruption oleh media digital, hal ini akan sangat memberatkan para pemain lokal seperi Femina Group.

Production Process
Sebagai pemimpin pasar dengan oplah yang tinggi dan permintaan pemasangan iklan yang tinggi menyebabkan perusahaan harus cepat memenuhi permintaan pasar. Di satu sisi proses produksi memerlukan percetakan dengan kapasitas terpasang yang cukup besar. Sehingga langkah mudah yang ditempuh adalah melakukan pencetakan majalah di percetakan milik perusahaan lain. Kondisi ini menyebabkan biaya produksi yang lebih tinggi dan perusahaan tidak dapat melakukan intervensi terhadap struktur biaya produksi perusahaan lain. Penurunan oplah iklan yang tadinya bisa 70% iklan semakin menurun sampai dengan 15% iklan, tapi di sisi lain biaya produksi majalah tidak dapat diturunkan. Hal ini menyebabkan Femina Group semakin berat dalam menjalankan bisnisnya.

Perkembangan teknologi informasi di Indonesia yang ditandai dengan semakin baiknya infrastruktur internet broadband yang disediakan oleh perusahaan telekomunikasi selular, serta pembangunan infrastruktur jaringan fiber internet telah menjadikan koneksi akses dan pengiriman konten menjadi sangat mudah dan cepat. Kondisi ini menyebabkan media internet yang ditunjang dengan adanya device personal komputer dan smartphone menjadikan akses kepada informasi semakin mudah dan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Perkembangan teknologi, perubahan perilaku mengakses media, perubahan pasokan konten yang semakin beragam dan cepat yang bahkan konten saat ini bisa dibuat dan sebarkan oleh siapapun dalam hitungan jam, maka dapat dipastikan industri media informasi yang berbasis media cetak akan tergusur, karena memerlukan waktu produksi yang lama serta perubahan pembaca yang mengakses berita dan segala informasi melalu smartphone di tangan tanpa mengenal batasan waktu dan tempat.

Perkembangan teknologi dan perilaku masyarakat yang selalu terkoneksi (always on) telah gagal diantisipasi dengan cepat oleh Femina Group.

Di sisi lain perkembangan teknologi informasi telah melahirkan berbagai macam bisnis baru. Peluang baru semakin mudah dan banyak bermunculan dengan adanya kemudahan koneksi dan setiap orang terkoneksi dengan internet. Salah satunya Media Intelligence, dimana perusahaan menyediakan system layanan media monitoring yang mampu memotret kondisi popularitas, pembicaraan, sentimen dari suatu brand atau personal branding seseorang melalui monitoring media online dan bahkan media off-line di level nasional maupun lokal. Media Intelligence sangat berguna untuk mengetahui posisi popularitas suatu brand sehingga perusahaan dapat melalukan tindakan yang tepat dalam melakukan kegiatan marketing dan promosi untuk meningkatkan awareness serta meningkatkan konversi menjadi jumlah pelanggan dan penjualan.


Oleh :
Gagan Gandara
NIM: K15181232
Mahasiswa Magister Management Sekolah Bisnis IPB
Catatan Mata Kuliah Kapita Selekta

1 comment:

  1. keterlambatan beradaptasi yg jadi penyebab utamanya, case2 seperti ini sudah sering terjadi pada brand-brand besar seperti pada nokia dan blackberry, mungkin jika Femina aware lebih cepat dan mampu berinovasi mengikuti trend, bisa jadi masih bertahan sampai sekarang

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkomentar

Loading...