loading...
Loading...

Politik Perdagangan Donald Trump Dalam Kebijakan Perdagangan Internasional

Kebijakan politik perdagangan Donald Trump dalam rangka mewujudkan slogan kampanyenya, make America great again, seakan menjadi sumber permasalahan perdagangan internasional dan ekonomi dunia, khususnya di pertegahan tahun 2018. Kebijakan Donald Trump telah memicu perang dagang antara 3 (tiga) kekuatan besar ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat, China dan Uni Eropa.
Ilustrasi angkutan cargo dalam perdagangan internasional. Foto : Pixabay.
Ilustrasi angkutan cargo dalam perdagangan internasional. Foto : Pixabay.
Dikutip dari Wikipedia, Kebijakan Tarif Trump adalah serangkaian tarif yang dikenakan selama kepresidenan Donald Trump sebagai bagian dari kebijakan ekonominya. Pada Januari 2018, Trump memberlakukan tarif pada panel surya dan mesin cuci sebesar 30% hingga 50%. Kemudian pada tahun yang sama ia mengenakan tarif impor atas baja 25% dan aluminium 10% dari sebagian besar negara. Pada 1 Juni 2018, pengenaan tarif ini diperluas kepada Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Satu-satunya negara yang tetap dikecualikan dari tarif baja dan aluminium adalah Australia dan Argentina.

Secara terpisah, pada 6 Juli, pemerintahan Trump menetapkan tarif 25% pada 800 kategori barang yang diimpor dari China senilai 50 miliar USD. Morgan Stanley memperkirakan bahwa tarif Trump untuk baja, aluminium, mesin cuci, dan panel surya, pada Maret 2018, mencakup 4,1% impor AS.
Kebijakan Tarif Trump membuat marah mitra dagang, yang kemudian membalas dengan menerapkan tarif pembalasan atas barang-barang AS. Kanada memberlakukan tarif pembalasan pada tanggal 1 Juli 2018. China menuduh AS memulai perang dagang dan pada 6 Juli menerapkan tarif yang setara dengan 34 miliar USD yang dikenakan padanya oleh AS. India berencana untuk mengganti denda perdagangan sebesar 241 juta USD dengan baja dan aluminium India senilai 1,2 miliar USD. Negara-negara lain, seperti Australia, khawatir akan konsekuensi perang dagang ini.

Tindakan proteksionisme Trump, tidak diterima dengan baik oleh sebagian besar ekonom, hampir 80% dari 60 ekonom yang disurvei oleh Reuters percaya bahwa tarif impor baja dan aluminium akan menjadi kerugian bersih bagi perekonomian AS, dengan sisanya percaya bahwa tarif akan memiliki sedikit atau tidak berpengaruh. Tidak ada ekonom yang disurvei percaya bahwa tarif akan menguntungkan perekonomian AS. Pada Juli 2018, administrasi Trump mengumumkan akan menggunakan program era Depresi Besar, Commodity Credit Corporation, untuk membayar petani hingga 12 miliar USD. Program bantuan pemerintah ini bertujuan untuk membantu kekurangan karena petani kehilangan penjualan di luar negeri karena perang dagang dengan Cina, Uni Eropa, dan negara lainnya. Kebijakan Trump telah memicu perang dagang dan menimbulkan sentimen negatif terhadap perekonomian global.

Menelaah lebih dalam, ada beberapa hal yang melatarbelakangi kebijakan kontroversial dari Donald Trump sebagai Kepala Negara super power yang menguasai perekonomian terbesar di dunia atau sebesar 25,6 % dari total Produk Domestik Bruto dunia (IMF 2018, World Economic Outlook Database, June 6, 2018). Adalah sebagai berikut:

Pertama, menurut Matthew Bey dalam opininya: How to understand Trump’s trade policy: It’s about restricting imports - www.marketwatch.com, dari sejak 1988 pada saat produk-produk Jepang dari mulai mobil sampai barang-barang elektronik membanjiri Amerika, Trump berpendapat bahwa perdagangan Amerika dengan Jepang adalah tidak adil. Karena pada saat itu menurutnya hampir tidak mungkin Amerika bisa mengekspor barang-barang ke Jepang. Sehingga hal ini menyebabkan terjadinya defisit ekspor-impor antara Amerika dan Jepang. Bagi Trump perdagangan yang adil adalah ketika volume ekspor-impor dengan suatu negara adalah seimbang atau bahkan menang yang berarti volume ekspor-impor mengalami surplus.  Selama ia menjadi figur publik, jauh sebelum ia menjadi seorang politikus, Trump mengeluh tentang kebijakan perdagangan Amerika dengan negara-negara dari seluruh dunia. Selalu ada dua ide inti yang mendasari keyakinannya pada perdagangan. Yang pertama adalah bahwa perdagangan adalah kontes zero-sum di mana satu-satunya tujuan adalah mengekspor barang. Jika kita mengimpor sesuatu dari negara lain, bahkan jika keunggulan komparatif membuatnya sangat masuk akal bagi kita untuk melakukannya, maka negara lain telah "menang" dan Amerika Serikat telah "hilang."

Kedua, Menurut Trump perdagangan adalah mewakili semacam kontes kebanggaan, bahkan kedewasaan. Ketika dia berbicara tentang perdagangan, dia hampir selalu mengatakan bahwa negara-negara lain, terutama China, “menertawakan kita.” Ketika Amerika, katakanlah, membeli barang-barang konsumen murah dari luar negeri, itu berarti Amerika adalah pengisap dan curang. (Paul Waldman, 2018. Reff: https://www.washingtonpost.com/blogs/plum-line/wp/2018/03/02/the-real-reason-trump-wants-to-start-a-trade-war/?noredirect=on&utm_term=.7164e2a5b2c8).
Selain itu, Trump secara jelas menganut aliran Mercantilism. John J. Wild dan Kenneth L. Wild dalam bukunya International Business – The Challenges of Globalization, Global Edition - 2016, menyatakan bahwa dalam teori Mercantilism negara-negara harus mengumpulkan kekayaan finansial, biasanya dalam bentuk emas, dengan mendorong ekspor dan mengurangi impor. Praktek mercantilism bertumpu pada tiga pilar penting yaitu: surplus perdagangan (1), intervensi pemerintah (2), dan kolonialisme (3).

Melalui surplus perdagangan yang besar mereka percaya bahwa mereka dapat meningkatkan kekayaan dengan mempertahankan surplus perdagangan, yaitu kondisi yang terjadi ketika nilai ekspor suatu negara lebih besar daripada nilai impornya. Dalam mercantilism, surplus perdagangan berarti bahwa suatu negara mengambil lebih banyak emas pada penjualan ekspornya daripada membayar untuk impornya.  Defisit perdagangan adalah kondisi sebaliknya, yang terjadi ketika nilai impor suatu negara lebih besar daripada nilai ekspornya. Dalam mercantilism, defisit perdagangan harus dihindari dengan segala cara. Inilah yang saat ini Donald Trump terapkan, khususnya kepada China, Kanada dan Uni Eropa dimana Amerika Serikat mengalamai defisit perdagangan yang dalam, untuk melakukan politik perdagangan proteksionisme dengan mengenakan tarif impor pada berbagai produk.

Menurut mercantilism, akumulasi kekayaan bergantung pada peningkatan surplus perdagangan suatu negara, tidak perlu memperluas nilai total atau volume perdagangannya. Pemerintah negara-negara mercantilist melakukan ini dengan melarang impor tertentu atau memberlakukan berbagai pembatasan pada mereka, seperti tarif atau kuota. Pada saat yang sama, negara-negara mensubsidi industri yang berbasis di negara asal untuk memperluas ekspor. Pemerintah juga biasanya melarang terjadinya capital flight ke negara lain.

Kebijakan Trump Memicu Pembalasan
Ketika ketegangan perdagangan meningkat antara AS dan China, IMF dan bank sentral telah meningkatkan peringatan bahwa konfrontasi dapat mencederai pemulihan global. Sejauh ini IMF masih berpegang pada perkiraan bahwa ekonomi dunia akan tumbuh 3,9 % tahun ini dan proyeksi berikutnya yang belum berubah sejak April. Tetapi telah memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan dapat menekan pertumbuhan dalam jangka menengah. Sementara itu, Bank Sentral Eropa telah memperingatkan bahwa pertempuran tit-for-tat (Tit for tat adalah strategi yang didasarkan pada konsep pembalasan. Strategi Tit for Tat diperkenalkan oleh Anatol Rapoport pada 1981), atas sanksi antara AS dan China dapat merusak pertumbuhan di kawasan Euro dan meninggalkan tarif AS di level tertinggi mereka selama setengah abad.

Financial Times melihat konsekuensi ekonomi dari perang dagang Donald Trump dan konfrontasi lainnya. Washington dan Beijing memberlakukan tarif hukuman pada 34 Miliar USD impor dari satu sama lain bulan lalu - untuk China, setara dengan 7% dari ekspor ke AS - dan ditetapkan untuk memberlakukan bea pada tambahan 16 Miliar USD pada 23 Agustus. Mereka telah mengancam untuk meningkatkan perang lebih lanjut, dengan presiden AS Donald Trump menyarankan bahwa AS mungkin memperkenalkan bea atas total tahunannya 500 miliar USD dalam impor dari China.
Selain itu, AS mengenakan tarif untuk impor baja dan aluminium, yang memicu tegas pembalasan dari Kanada, Meksiko, dan UE. Meskipun ketegangan dengan Eropa telah berkurang setelah pertemuan antara Trump dan Jean-Claude Juncker, tetapi Trump belum bisa menindaklanjuti ancaman untuk memberlakukan tarif pada mobil Eropa.

Pengaruh Perang Tarif Terhadap Ekonomi Dunia
Sejauh ini, hambatan tarif baru untuk perdagangan memiliki dampak yang sangat kecil terhadap kegiatan ekonomi dunia. Tarif baru yang diumumkan mempengaruhi sebagian kecil dari ekonomi dunia.

Gabriel Sterne, kepala penelitian makro di konsultan Oxford Economics, menghitung bahwa, jika tarif baru berlaku hanya akan mempengaruhi 4 % dari impor dunia. Namun demikian, Mark Carney, Gubernur Bank of England, menyatakan bahwa bukti sementara tentang perang tarif berberdampak pada arus perdagangan. Dia menambahkan  ada perlambatan dalam pesanan barang modal dalam perdagangan.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ada ancaman terhadap kepercayaan bisnis yang lebih luas dan memukul harga aset, yang mengarah ke kondisi keuangan yang lebih ketat? Bukti yang paling jelas berasal dari survei manufaktur, menunjukkan kelemahan yang meluas dalam pesanan ekspor di banyak negara, meskipun kegiatan secara keseluruhan masih ringan. Pada bulan Juli, indeks manufaktur ISM AS tergelincir ke level terendah dalam 12 bulan, di zona euro pesanan ekspor baru jatuh ke level terendah dalam dua tahun terakhir, dan survei lain menunjukkan laju ekspansi yang lebih lambat di Cina dan tempat lain di Asia. Lebih tidak menyenangkan lagi, adalah terjadi penurunan tajam di bulan Juni dalam output manufaktur Jerman. Sebagian besar karena penurunan pesanan dari luar zona euro. Ada juga beberapa tanda-tanda pesanan barang-barang impor yang kemungkinan akan terpengaruh oleh tarif. Arus perdagangan bisa turun tajam.

Menurut para ekonom, banyak yang melihat hanya sedikit penurunan dalam ekonomi global, bahkan jika ada kehilangan pekerjaan dan harga yang lebih tinggi untuk konsumen. Ini sebagian karena AS telah melakukan stimulus fiskal. China memiliki perangkat kebijakan lain untuk mendukung pertumbuhan, dan depresiasi baru-baru ini dalam renminbi akan melunakkan pengaruh tarif pada eksportirnya.

Mr Sterne di Oxford Economics memperkirakan bahwa eskalasi konflik perdagangan dapat menyebabkan kerugian kumulatif 0,7 % dalam produk domestik bruto global pada tahun 2020. Tapi Barry Eichengreen, seorang profesor di Berkeley, memperingatkan bulan lalu bahwa "model ekonomi standar terkenal buruk dalam menangkap efek ketidakpastian ekonomi makro, yang menciptakan perang perdagangan dengan pembalasan."

Faktor lain yang krusial adalah perang dagang menciptakan putaran pembalasan dan putaran tanggapan yang akan menciptakan iklim yang sama sekali berbeda. Harus menilai kedua efek langsung, yang mungkin signifikan. (Delphine Strauss, 2018. Reff: https://www.ft.com/content/ec8f616e-9fd9-11e8-85da-eeb7a9ce36e4).

Politik Perdagangan Amerika Serikat
Kalau kita cermati lebih dalam kebijakan proteksionisme Trump disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu janji politik domestik dan faktor ekternal perebutan hegemoni internasional. Kalo kita cermati data IMF menunjukan sejak tahun 2014 China dari segi GDP PPP telah melebihi Amerika Serikat, sebagai kekuatan ekonomi nomor datu dunia, meskipun dari segi GDP nominal, sesuai prediksi IMF di tahun 2018 ini masih terpaut 4.000 triliyun USD dimana Amerika Serikat 19.000 Triliyun dan China 15.000 Trilyun USD. Namun yang paling menonjol perbedaan dari Amerika dengan China adalah China mengalami surplus yang cukup besar dengan Amerika, dari total nilai perdagangan kedua negara selama 2017, China export 80% sedangkan Amerika export 20%. Kalo tidak dibatasi, bukan tidak mungkin suatu saat dalam waktu yang cepat China akan menyalip Amerika sebagai kekuatan ekonomi nomor 1 dania dari segi GDP nominal.

Sebagai penguasa ekonomi dunia, Amerika Serikat saat ini diuntungkan dengan mata uang dollar Amerika Serikat sebagai Foreign Reserve Currency. Sehingga meskipun trade balance negatif, tidak berpengaruh terhadap Foreign exchange reserve atau cadangan devisa. Apalagi perdagangan jasa yang positif serta net factor payment dan capital account yang masih positif.  Sehingga sebenarnya Current Account Deficit (CAD) Amerika masih 2.5% dari GDP dan masih tergolong aman. Angka ini mirip dan hampir sama dengan CAD Indonesia yang diprediksi sebesar 2.5% di tahun 2018. Bahkan laporan terakhir setelah kebijakan Trump Tarif ini CAD Amerika Serikat turun menjadi sebasar 2% dari GDP. Disini menunjukan bahwa CAD adalah bukan ancaman bagi ekonomi AS.

Tetapi peningkatan GDP China bisa menyebabkan jarak yang semakin sempit dengan AS dan ketakuan yang paling dalam adalah apabila Foreign Reserve Currency berubah dari USD menjadi Yuan. Bukan tidak mungkin ketika China menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia, negara-negara yang berafiliasi dan yang memiliki ketergantungan besar menjadikan cadangan devisa beralih ke Yuan. Pada saat ini lah maka USD akan bergantung kepada Yuan China, dan harus mengendalikan cadangan devisa dalam Yuan.

Namun demikian, sebelum yuan dapat menjadi mata uang global, ia harus terlebih dahulu berhasil sebagai mata uang cadangan devisa. Itu akan memberi China lima manfaat berikut. Yuan akan digunakan untuk menetapkan harga lebih banyak kontrak internasional (1). China mengekspor banyak komoditas yang secara tradisional dihargai dalam dolar AS. Jika mereka diberi harga dalam yuan, China tidak perlu khawatir tentang nilai dolar (2). Semua bank sentral harus memegang yuan sebagai bagian dari cadangan devisa mereka. Yuan akan memiliki permintaan yang lebih tinggi. Itu akan menurunkan suku bunga untuk obligasi dalam mata uang yuan (3). Eksportir China akan memiliki biaya pinjaman yang lebih rendah (4). China akan memiliki pengaruh ekonomi yang lebih besar dalam hubungannya dengan Amerika Serikat. Itu akan mendukung reformasi ekonomi Presiden Xie Jinping.


Gagan Gandara
E66. K15181232
Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Bisnis IPB
Tulisan merupakan tugas akhir mata kuliah Internasional Bisnis

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkomentar

Loading...